Aside

[Re-read] Harry Potter

Beberapa hari ini aku baca ulang Harry Potter dari awal. Tidak persis dari awal sih. Lebih tepatnya baca dari akhir ke awal (jilid #7 – #1). Ceritanya sih sebagai pelipur lara karena gagal beli seri The Cursed Child *tears.

Heran ya… Meski sudah dibaca entah untuk keberapa kalinya (terutama jilid #4-#7) aku masih dapat feel-nya—masih menertawakan lelucon-leluconnya, masih menangisi part melankolisnya, masih merasakan thrill-nya.

_20160116_133957-jpg

salah satu chapter favorit ^^

Aku selalu suka bagaimana “mbak” JK Rowling menutur kisah Harry Potter dkk, bagaimana dia mendeskripsikan tidak hanya suasana hati tiap tokohnya, tapi juga detil ruang dan waktu tiap adegannya, juga bagaimana dengan pandainya dia “menempatkan” sisi emosional yang tepat sesuai usia Harry dkk dalam sepanjang serialnya.  It so amazing that you can feel how every character grown-up physically and mentally. Seperti saat dia membuat karakter Harry yang sedikit jadi lebih gampang marah, Continue reading