[ 2 ] when I become a dumbass

Bismillah

Okeh, hari ini tanggal 30, artinya harusnya postingan ini merupakan postingan keempat. Tapi, yah apa boleh buat, karena ternyata kuota internet saya habis sebelum tanggalnya, dan yang tersisa hanya kuota mbak kunti malam, saya kesulitan memposting setiap tulisan saya. Tahulah, susah bangun pagi soalnya. Karena ini tantangan yang saya buat sendiri, saya akan malu sekali jika saya melanggarnya. Jadi,hari ini akan jadi hari edisi spesial posting berantai mengejar ketinggalan dua hari kemarin (well, semoga bisa deh -___-)

Back to the topic, membaca judul postingan kali ini seperti itu, pasti tertebak apa kira-kira isi postingan kali ini. Binggo, ketololan seorang ragel.

Ceritanya begini, as usual, jalan-jalan kesana kemari di dunia maya, ketemu satu announcement yang isinya tentang kegiatan menjadi volunteer untuk mengerjakan proyek lingkungan di Malaysia. Membaca persyaratannya, saya rasa lumayan bisa saya penuhi lah (aiih…pe de), terus saya unduh formulirnya. Saya isi satu persatu pertanyaan dalam formulir itu dan…ohhhh, saya terpaksa berhenti. Seperti yang sodara-sodara tahu, tiap kegiatan resmi di luar negeri pasti butuh sertifikat sakti yang satu ini. Yap, sertifikat TOEFL. Nilai TOEFL saya rendah sekali, itupun saya ikuti sekitar dua tahun yang lalu. Artinya, you know what I mean—saya harus mundur dari pencalonan pendaftaran peserta. Tapi, begitu saya perhatikan, ternyata kegiatan tersebut tidak mensyaratkan batas tahun ikut TOEFL ataupun score minimum yang harus dipenuhi. Horeeeee… kesempatan *bongkar arsip. Yang dicari ternyata tidak ditemukan. Saya langsung ingat, sewaktu saya ikut tes TOEFL dua tahun lalu itu saya tidak mengambil sertifikatnya lantaran skor saya yang rendah (ya iyawlahhh…emang sertifikat dengan nilai rendah begitu bisa dipake apa, pikirku. Ternyata salah sekali, sertifikat itu ‘bakal’ berguna akhirnya).

Sebagaimana scorpio yang keras kepala, bermodal nekat saya datangi kantor penyelanggara TOEFL yang saya ikuti dulu. Kantornya juauuuuhhhh sekali dari tempat tinggalku (tak apalah, saya butuh kertas kecil itu!). Sampai disana saya disambut hangat oleh pegawai frontliner nya. Setelah mbak-mbaknya ngerti apa maksud kedatangan saya, dia lantas mencari-cari sertifikat yang dimaksud. Sayangnya, saya lupa bulan apa tepatnya saya ikut tes (nassa-nassa mi, na lewat 2 tahun, apa mau diingat). Jadi, mbaknya kesulitan menemukan sertifikat saya. Entah karena putus asa, mbaknya nyuruh saya nanya ke kantor cabang mereka yang lain yang dekat dengan kampus saya. Alasannya, setiap mengadakan tes TOEFL di kampus saya, biasanya sertifikat peserta disimpan di kantor perwakilan yang dekat kampus.

Okeh, saya terlanjur ada di luar sekarang, kenapa tidak coba saja cari kesana sekalian. Melirik jam tangan dan mengira-ngira waktu perjalanan, saya rasa waktunya cukup. Dan disitulah saya satu setengah jam kemudian. Sebagaimana di kantor perwakilan sebelumnya, frontliner yang menyambut saya ramah menanyakan keperluan saya. Saya jelaskan maksud kedatangan saya, kemudian karyawannya dengan tampang terkejut (bercampur mau ketawa kayaknya) bilang : “oh, ya ampun, maaf mbak, sertifikat TOEFL institusional cuma berlaku satu tahun. Jadi begitu lewat setahun, sertifikat yang belum diambil pemiliknya kami musnahkan. Yahh, mbak bisa bayangkan, kalau kami tidak lakukan kebijakan seperti itu kantor kami akan penuh dengan tumpukan sertifikat”.

Hmmph…setelah dengar penjelasannya, mengangguk sedikit dan senyum gaje sambil bilang gak papa dan terima kasih, saya langsung cepat-cepat kabur. Malu pisan euy. Bayanganku, pasti seumur si mbak frontliner kerja di situ tidak pernah ada peserta yang datang cari sertifikat yang sudah dua tahun tidak diambil. Tolol betul.

Yah, hari itu saya bolak balik sekitar 3 jam dan tidak menghasilkan apa-apa. Apa boleh buat, saya harus mundur dari pendaftaran itu (padahal kepingin sekali ikut proyek ijo-ijo lingkungan seperti itu). Setidaknya saya jadi dapat satu hal—jangan pernah tinggalkan sertifikat TOEFL di kantor penyelenggara berapapun skor Anda, karena Anda tidak pernah tahu, seberapa bergunanya ia dimasa mendatang kelak (well, nasihat ini kayaknya cuman cocok buat saya sih 😛 ). Setidaknya kalau tidak digunakan, sertifikatnya bisa jadi kenang-kenangan buat dibandingkan dengan sertifikat TOEFL terbaru kita :-P. Hadeeeehh…. TOEFL oh TOEFL, bikin saya seperti orang tolol -___-“

Advertisements

2 thoughts on “[ 2 ] when I become a dumbass

  1. jd ingatka dulu pernah ikut try outnya tes toefl yang dibikin sm teknik waktu masih maba, scornya yahhh begitumi.. haha
    kegiatan apa itu ragel??

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s